Aparat negara tidak menjaga  keamanan di NTB. Peluru tajam milik kepolisian yang disubsidi oleh uang rakyat kembali membunuh sedikitnya 3 orang yang tidak berdosa. Aksi solidaritas dari berbagai pergerakan mewakili rakyat NTB, untuk mengeluarkan aspirasi yang telah terjadi di daerahnya.

Oleh: Benny Trisdiyanto

Yogyakarta-Keadilan. Selasa, 27 Desember 2011 di Tugu telah berlangsung aksi solidaritas yang mengatasnamakan dirinya Front Rakyat Anti Tambang (FRAT), yang terdiri dari berbagai pergerakan mahasiswa yang ada di Yogyakarta. Siang itu, panas yang menyengat tak menyurutkan semangat mahasiswa untuk mengeluarkan aspirasi terhadap pemerintah. Diawali dengan persiapan dari beberapa anggota aksi untuk melakukan teater dengan cara mengecat badan, sedangkan persiapan persenjataan yang digantikan dengan batang dari pohon pisang. Gambar aparatur negara seperti Presiden, Gubernur NTB dan Bupati Bima menjadi pelengkap. Aksi tersebut dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan  masyarakat NTB sendiri. Sebelum aksi dimulai, para anggota aksi dibariskan 5 banjar menyamping dan dilintasi tali rafia untuk membatasi barisan.

Aksi ini tak lupa membawa spanduk bertuliskan “Adili dan Hukum Pelaku Pelanggar HAM” yang ditujukan untuk para aparatur negara dan juga pemerintah. Spanduk di bentangkan sebanyak 3 buah, mengelilingi seluruh anggota aksi. Kemudian dengan dimulainya orasi yang pertama, pertanda aksi sudah dimulai dan berlangsung dari Tugu di lanjutkan di depan kantor DPRD, kemudian berakhir di daerah nol kilometer yang bertepatan dengan gedung Agung jalan Malioboro. Orasi yang di keluarkan dari megaphone koorlap antara lain Pencabutan SK Bupati Bima, hentikan represifitas terhadap rakyat Bima, adili dan hukum pelaku pelanggar HAM, kemudian bebaskan Adi Supriadi dan seluruh masyarakat Bima yang ditangkap tanpa syarat.

Aksi yang dikawal oleh polisi berjalan dengan lancar walau terjadi sedikit kemacetan bagi pengendara lain. Orasi demi orasi pada siang itu berkumandang tak henti dan saling bersautan dengan yang lain. Longmarch dari jalan Mangkubumi hingga Malioboro tak hentinya orasi bersuara dari koorlap maupun anggota dari aksi. Sepanjang perjalanan, drama teatrikal tidak lupa dilakukan oleh beberapa anggtota aksi.

Sesampainya di Malioboro, aksi berhenti di depan gedung DPRD Yogyakarta untuk mengutarakan aspirasi rakyat NTB yang sudah diwakilkan kepada seluruh anggota aksi. Di depan gedung DPRD sudah terjaga oleh beberapa aparat kepolisian dan penjaga kantor tersebut lengkap dengan atribut di pakaiannya. Pelaku drama semakin mewakilkan apa yang sedang terjadi di NTB. Matahari yang menunjukan kejantannya menemani drama tersebut hingga memasuki gerbang DPRD. Dengan mencontohkan peragaan seperti pemukulan dan menendang yang dilakukan oleh aparat TNI dan kepolisian. Polisi, kemudian penjaga mundur sedikit untuk membiarkan sejenak drama  yang sedang dilakukan oleh para pemain. Tak lama kemudian para pemain kembali kedalam barisan aksi, untuk berkumpul dan melanjutkan ke gedung Agung. Selang bebrapa waktu, Adzan sholat Dzuhur berkumandang dan aksipun berhenti sejenak untuk menghormatinya.

Adzan usai, aksi dilanjutkan kembali sama seperti awal pemberangkatan. Diselingi nyanyian dan teriakan dalam orasi membuat semangat kembali para anggota yang mengikuti aksi. Perjalanan perlahan dilanjutkan kembali menuju depan Gedung Agung dan kegiatan  hampir sama seperti apa yang dilakukan di depan kantor DPRD.

Di sela waktu aksi tersebut, Keadilan mewawancari Dede sebagai humas dari FRAT, ia mengatakan aksi solidaritas ini berlangsung karena adanya kejadian dari beberapa saudaranya di NTB. Wanita berbadan kecil ini juga mengomentari tentang aparat negara yang telah gagal mensejahterakan rakyat. Kemudian kegiatan masyarakat yang keseharian ialah petani dan mengelola alam yang ada di dalam wilayah tersebut telah di tolak Bupati Bima. “Persoalan penembakan,  pembantaian dan segala macam yang terjadi di Bima saat ini”, ujarnya.

 

Tags: