Oleh : Dimas Triambodo

Busanamu cermin pribadimu, begitulah slogan yang tertulis di Baliho tentang anjuran berbusana di Fakultas Hukum UII. Meski hanya sebuah slogan, tapi makna yang terkandung di slogan tersebut telah mengingatkan kita betapa pentingnya berbusana yang baik sebagai cermin pribadi yang baik. Sejatinya di dalam berbusana memang tidak ada standar baku bagaimana berbusana yang baik. Karena baik tidaknya penilaian berbusana, lebih menitik beratkan kepada penilaian subjektif seseorang kepada pemakai busana itu sendiri.
FH UII sebagai kampus berbasis Islam tentu sangat menjunjung tinggi etika berbusana yang baik dan bernuansa islami di lingkungan kampus. Korelasi antara berbusana yang baik dengan etika kesopanan memang sangat diperlukan sebagai perwujudan menjunjung etika kesopanan dan moral di ruang lingkup kampus. Lagipula di dalam Agama Islam pun juga mewajibkan untuk berbusana yang baik dan menutup aurat. Maka tidak salah jika di UII sendiri menetapkan aturan, yakni mahasiswi wajib menggunakan jilbab dan mahasiswa wajib menggunakan busana rapi dan berkemeja sebagai bentuk pengaplikasian Universitas yang berasas Islami.

Namun fakta yang terjadi di keseharian kampus FH UII, masih banyak mahasiswa/i yang masih belum bisa membedakan mana busana yang pantas untuk kuliah dengan busana untuk sekedar mejeng (bergaya). Sehingga seolah-seolah hanya mengikuti trend yang update, daripada harus mengikuti busana yang dianjurkan oleh kampus. Contohnya saja masih banyak mahasiswi yang menggunakan jilbab tapi masih menggunakan pakaian yang ketat sehingga terasa kurang pantas jika dilihat dari konteks islami, malah ada dari beberapa mahasiswi yang memakai jilbab namun masih memperlihatkan rambut atau poninya. Mahasiswa pria juga ada beberapa yang masih nekat masuk kelas perkuliahan dengan menggunakan celana sobek – sobek yang kurang pantas atau pun masih nekat memakai kaos dikelas yang hanya ditutupi menggunakan jaket saja.

Gejala semacam ini muncul bukan tanpa sebab, ini jelas ada penyebabnya mengapa gejala semacam ini bisa muncul. Salah satunya mungkin karena mahasiswa/i merasa lebih mementingkan busana yang  fashionable seperti artis pujaannya, atau pun mungkin kurang tegasnya kampus dalam menerapkan aturan busana yang ada. Sebetulnya di dalam kontrak belajar  beberapa dosen telah mencantumkan aturan berbusana yang baik akan tetapi rasanya hal itu masih belum efektif mengingat jumlah dosen yang mencantumkan aturan busana pada kontrak belajarnya lebih sedikit ketimbang dosen yang tidak menerapkan pada kontrak belajarnya. Di sisi lain sepertinya keinginan untuk berbusana yang baik itu tidak timbul dari kesadaran diri mahasiswa/i itu sendiri, tapi hanya sebatas mengikuti aturan main yang ditetapkan oleh dosen dan ketakutan terhadap dosen jika melanggar.

Kebijakan juga telah dilakukan pihak kampus, misalnya menagadakan razia busana pada saat dilaksanakannya UTS ataupun UAS. Beberapa contoh kasus misalnya, Mahasiswi yang masih nekat menggunakan busana yang ketat saat ujian  akan dipanggil oleh beberapa dosen untuk menerima sanksi, yakni memakai rompi khusus berwarna merah sebagai bentuk sanksi atas pelanggaran yang telah dilakukannya. Namun pertanyaan yang muncul adalah apakah sanksi seperti ini akan efektif untuk menekan mahasiswa/i yang tetap melanggar? atau justru akan memecah konsentrasi mahasiswa/i yang terkena sanksi dalam melaksanakan ujian?

Dibalik aturan dan kebijakan yang telah dilakukan pihak kampus, sebenarnya mahasiswa ataupun mahasiswilah yang seharusnya lebih memiliki kesadaran berbusana yang baik di kampus sebagai wujud cerminan pribadi yang berahklak dan bermoral baik, tidak hanya sekedar formalitas belaka yang harus dijalankan dalam mengikuti perkuliahan. Semoga harapan ke depan, mahasiswa/i semakin sadar akan pentingnya berbusana yang baik dan sopan di dalam lingkup kampus sehingga akan menimbulkan kesan dan citra yang baik bagi kampus sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai islami. Ditambah penegasan aturan oleh pihak kampus. Tidak hanya saat ujian saja, namun lebih diaplikasikan kepada perkuliahan sehari-hari.