Syahdan, pada Agustus 1958. Seorang anak kecil berusia empat tahun diajak eyangnya H. Nasucha ke alun-alun Kendal menyaksikan upacara peringatan 13 tahun kemerdekaan Indonesia. Ayahnya, M. Enohyudokusumo seorang militer tampil diacara itu mengenakan pakaian tentara lengkap, terlihat gagah duduk di atas kuda. Sambil merengek, ia ingin sekali menunggangi kuda tersebut, tapi ayah melarangnya. Ia dibawa pulang kerumah dan dibuatkan kuda debog oleh Sang Bapak.
Oleh: Yogi Zul Fadhli
Yossiadi Bambang Singgih, nama anak kecil itu. Lahir di Kendal 1954, bertepatan dengan hari sumpah pemuda 28 Oktober. Masa kecil selama tujuh tahun ia lalui di tempat kelahiran, baru pada 1961 ia pindah ke Semarang. Kini anak kecil itu sudah berusia 56 tahun. Om Yossi, begitu ia akrab disapa. Wajahnya bulat, rambut pendek, kumisnya terbaur antara hitam dan putih, noda hitam tumbuh di sekitar pipi. Orangnya ramah dan supel.
Pria ini bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. Ia memakai topi model jaman kompeni, terbuat dari anyaman bambu, mengenakan kaos kerah warna biru saat Keadilan menemuinya di Pelataran YTC, Sabtu 5 Juni 2010. YTC atau Yoss Traditional Center adalah lokasi pelestarian budaya, khususnya permainan tradisional. Kuda debog buatan Si Ayah menginspirasi Yossi untuk menjadikannya trademark tempat itu.
Memulai karir sebagai Pegawai Negeri, Yossiadi menerima SK dari pemerintah pusat pada 1982. Awal karir ia rintis menjadi petugas lapangan dan penyuluh di Departemen Transmigrasi, pekerjaan ini ia tekuni sampai pada 2000. Setelah pemberlakuan otonomi daerah, Yossi memilih bergabung dengan pemerintah daerah Kabupaten Semarang. Ia ditempatkan di kecamatan selama lima bulan menjabat Staf Tramtib Kecamatan Ungaran. Lalu pindah ke Dinas Perhubungan, menjalani masa kerja tujuh bulan. Rentang 2002-2005 menjadi Staf Protokol Setda Kabupaten Semarang. Sempat pula pada 2005-2006 menjadi Staf Radio Serasi Kabupaten Semarang.
Sejak 2006, saat ia memutuskan mutasi dari protokoler ke Dinas Pariwisata, aktifitasnya mulai sering digunakan untuk menjelajah Kabupaten Semarang, mencari potensi budaya dan alam yang belum tergali di desa-desa tertinggal. Yossiadi tertantang dengan pertanyaan Bupati Semarang kala itu. ”Apa misimu pindah ke Dinas Pariwisata?” Yossiadi menirukan sang bupati dengan lantang.
Mengangkat potensi yang belum tersentuh pemerintah, itu misi bapak satu anak ini. ”Kabupaten Semarang brandingnya terlalu berat, surganya Jawa Tengah. Nah, benar tidak Kabupaten Semarang surganya Jawa Tengah,” Yossi membalikkan pertanyaan. Dari situlah ia mulai mencari benih pariwisata yang terpendam.
Pada 5 Maret 2008 ia menemukan Curug Lawit Binowo. Selang 15 hari kemudian tepatnya 20 Maret, Om Yossi menjumpai Curug Kembar Bolodewo. ”Sejak jaman merdeka tidak ada orang datang sendiri ke sana, lantaran orang tidak mengerti Curug Bolodewo itu untuk apa,” tutur Yossiadi. Orang tahunya airnya hanya untuk wudhu, masak, mandi, pengairan sawah tapi tidak paham bahwa itu sasaran untuk obyek wisata. “Karena pemerintah daerah belum ada yang sampai ke sana,” imbuhnya lagi. Terakhir 2 Februari 2010, Yossi menemukan Curug Tujuh Bidadari di Desa Keseneng, Sumowono.
Kesibukkan Yossi di Ungaran membuat ia harus rela hidup ”sebatang kara”. Keluarganya ada di Bandung. Satu sampai dua bulan sekali ia bolak-balik Ungaran-Bandung agar bisa berkumpul. Beruntung istri Om Yossi mendukung. Putu Indari Utami, nama istrinya. Sepintas kelahiran Bali. Tapi tidak, ia lahir di Surabaya 4 Desember 1955. Walau masih ada keturunan Bali. Pensiunan apoteker.
Pertemuan mereka bermula pada 1987 ketika hidup di perantauan, di Jakarta. Berdua ikut keluarga Bung Karno, Presiden pertama Indonesia. “Jadi kalau sore hari saya nongkrong di Suara Mardika Guruh, di sana ketemu dengan penarinya Mas Guruh. Jalaran soko kulino itu kan, kecantol,” kenang Yossi.
Pasangan ini naik pelaminan pada 1980, usai sebuah pagelaran di Gedung Bung Karno. Dari perkawinannya beroleh satu anak lelaki bernama Guntur Prabawa Kusuma, lahir 12 Maret 1981. Adapun tiga suku kata nama anaknya pemberian orang berbeda. Kata pertama dari Guruh, kedua dari eyangnya di Bali dan sebutan ketiga dari Yossiadi sendiri. Guntur alumni STT Telkom Bandung, melanjutkan S2 di ITB dan sedang berjuang menempuh S3 di Italia. Sekarang merantau ke Singapura jadi dosen. Istri Guntur berasal dari Gunung Kidul.
Di mata Indari, Yossi sosok penyayang keluarga. “Dia pegang prinsip 3T, teken, tekun, tekan, juga suka bercanda sama anak,” ujar ibu yang aktifitasnya sekarang banyak dihabiskan mengurus cucu. Selain itu Om Yossi pecinta tanaman. Walau penyuka flora, ia sangat takut pada uler. Padahal uler biasa hidup ditumbuhan. Ketika bercerita lewat telepon Indari berkisah, waktu itu pernah lihat uler, terus menginjak kapas, Om Yossi pingsan. “Pasti gilo sekecil apapun itu,” candanya sambil tertawa.
Tidak jauh berbeda, bagi Yani rekan kerjanya di Dinas Pariwisata, Yossiadi adalah figur pekerja keras dan memiliki semangat kerja tinggi. “Orangnya santai, tidak terlalu formil. Walau terlihat serius tapi ternyata tidak. Dia juga entengan,” ujarnya.
***
Suasana pedesaan masih kental, pepohonan tumbuh rindang, kerbau lalu lalang di jalan berangkat dan pergi bekerja membajak sawah. Menaiki bukit, sepanjang perjalanan ke Dusun Suruhan, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 26 kilometer dari Kota Semarang, kiri kanan jalan terhampar sawah tadah hujan.
Hampir seluruh rumah penduduk terdapat penjor di depannya. Penjor terbuat dari alang-alang kering, diikatkan pada sebatang bambu kemudian didirikan menyerupai tiang bendera, sedikit melengkung lantaran ada semacam benda berbentuk kerucut terbuat dari kulit bambu digantungkan dengan tali di ujung atas tiang tersebut. Tidak ada makna khusus, hanya sebagai identitas.
Desa ini merupakan salah satu desa yang ditemukan Yossi. Ada kesenian rakyat yang dirintis sejak 1950 namun belum tergali. YTC didirikan di tempat ini, di atas tanah kas Desa Keji seluas 1.000 meter persegi. Kuda lumping nama kesenian itu. Dipelopori oleh Winoto, Supar dan Rajak Suharto. Winoto sekarang berusia 90, Supar 80 dan Rajak Suharto 71 tahun.
Berawal dari seringnya bermain kartu, kemudian mereka memutuskan untuk menarikan kuda lumping di jalan-jalan, bermodal gamelan seadanya. Rajak Suharto, salah satu perintis berkisah, jika dulu kesenian kuda lumping memiliki Paguyuban bernama Langen Budi Utomo dan 1971 paguyuban itu diresmikan oleh Dinas Pendidikan. Diresmikannya kuda lumping tidak membuat kesenian ini kian berkembang. Dari 1971 hingga 2000, kesenian tersebut sekarat. ”Mati enggan, hidup pun tidak mau,” begitu Yossi mengistilahkan.
Hingga Yossiadi datang. Ia hadir menyelematkan kuda lumping dari kepunahan. Pada 2006 setelah masuk Dinas Pariwisata, ia diajak berkunjung ke Bali dan Bandung. Ia terpukau dengan saung angklung Mang Udjo dan Bali Classic Center yang mampu mendayagunakan potensi wilayahnya melalui seni dan budaya menjadi ladang penghasilan. Amati, tiru dan modifikasi, itu ia lakukan di dua daerah tersebut. ”Tapi tidak asal tiru saja, itu namanya latah,” tegasnya. Sepulang dari Bali dan Bandung ia membangun YTC, sebagai upayanya untuk tetap melanggengkan kesenian kuda lumping dan mengembangkan desa wisata.
Tak hanya kuda lumping, YTC juga menjadi ajang pelestarian permainan tradisional lain, seperti dakon, egrang, teklek, lesung, bekelan, sprento karet, gasingan dan kuda debog. Kuda debog dijadikan branding. ”Harus ada identitas yang tidak ada duanya di Indonesia dan dunia,” imbuh penyuka mie goreng dan teh ini. Motivasinya mendirikan YTC, berangkat dari rasa keprihatinan terhadap budaya Indonesia yang begitu gampangnya dijajah. Jika reog, angklung, batik, keris diklaim Malaysia itu karena orang Indonesia sendiri kurang peduli.
Untuk membangun YTC, SK PNS-nya jadi agunan, demi memperoleh pinjaman sepuluh juta dari bank. Peralatan pertama yang dibeli ialah seperangkat gamelan milik Mbah Pentel, Lurah Pewengen. Gara-gara generasinya tidak ada yang menampung, maka dibeli Om Yossi. ”Harganya 2 juta,” ujarnya sambil menyuruh anak-anak memainkan langgam Caping Gunung.
Masyarakat sekitar juga diberdayakan. Ada yang jadi penampil, penjual cinderamata maupun makanan khas. Pengamanan perangkat artis dan pemeliharaan dilakukan warga setempat pula. Biaya operasional berasal dari saweran pengunjung, dikelola warga dan setiap dua bulan sekali dibagikan pada mereka yang terlibat. ”Sebelum 2006 belum ada nama desa wisata. Sedangkan satu desa kabupaten akan terkenal jika pariwisatanya menonjol,” tutur lelaki yang hobi travelling ini. Ia menambahkan hasil yang diperoleh dapat cepat dirasakan rakyat ketika desa itu jadi desa wisata. ”Karena ketika ada wisatawan, uangnya masuk ke rakyat langsung.”
Konsep lain coba ia tawarkan, kuda lumping dulunya dimainkan oleh orang dewasa, kini dimainkan anak-anak. Berbeda dengan kuda lumping umumnya, Yossiadi mengenalkan kuda debog. Meski etiketnya masih sama dengan kuda lumping. ”Kuda debog terbuat dari pelepah daun pisang dengan accesories rumbai-rumbai dari daun pisang,” Yossi menerangkan sambil menunjuk poster bergambar anak-anak bermain kuda debog. Menggunakan topi dari daun nangka, karena di dukuh Suruhan banyak terdapat pohon nangka.
Kuda debog jadi permainan favorit Yossiadi dimasa kecil, selain patok lele (bentek), dakon, lesung dan egrang. Ada pengalaman lucu ketika Yossi masih bocah, peristiwa ini terjadi saat pentas perpisahan anak-anak kelas enam pada 1957. Kala itu Yosssi masih kelas tiga SD, ia menari kuda debog bersama teman-temannya. Keseluruhan berjumlah lima orang, ada Rudi, Rohmat, Wawan, dan Ribut.
Selagi sedang berlenggak-lenggok, rumbai-rumbai yang dikenakan Yossi melotrok. ”Menangis saya, semuanya pada teriak huuuu… terus teman-teman ikut nangis semua. Saya merajuk ke Ibu tidak jadi menari,” Yossi menerawang. Ia menambahkan, “saya sampai ngompol waktu melotrok itu,” sambil terkekeh-kekeh mengingat masa kecilnya. Selanjutnya ia tetap diminta naik pentas lagi dan justru dapat hadiah dari kepala sekolah. “Hadiahnya permen, permen cicak,” ujarnya girang.
***
Dua bocah nampak sibuk di tengah jalan desa. Dimas dan Esa namanya. Dimas anak kelas satu SD Negeri Keji, badannya lebih besar ketimbang Esa. Esa sudah kelas tiga, sekolah di tempat yang sama. SD mereka pernah hampir ditutup pemerintah, gara-gara kekurangan murid. Mereka berdua sedang sibuk membuat Kuda debog untuk pagelaran esok Minggu pagi.
Dimas dengan jari-jari kecilnya tampak lebih lincah menganyam pelepah pisang menjadi kuda mainan dari pada Esa. Butuh dua pelepah untuk menghasilkan Kuda Debog. Pertama, ia mengelupas daunnya hingga habis, seperempat batangnya dibengkokkan, bagian atas dicacah menjadi dua, kemudian dilubangi sebagai tempat memasukkan kepalanya. Pelepah pisang kedua dijadikan kepala dan badan kuda. Daunnya tidak dibabat habis, tapi dibentuk bunjai, semacam bulunya. Pelepah pertama dan kedua disatukan dengan tali rafia.
Bukan tanpa makna. Yossi menerangkan, ada filosofi di masing-masing permainan. Kuda debog, di situ anak diajari untuk mandiri. “Nanti malam ia sudah lari ke hutan cari pelepah, ia bikin sendiri merakit sendiri, tidak ketergantungan,” ujarnya. Ada egrang, egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50 cm dari bawah dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20 cm. Filosofinya melatih keberanian, melatih otak kanan dan kiri untuk keseimbangan.
Kemudian Teklek, permainan ini juga melatih otak kanan otak kiri, selain itu juga menjaga kekompakan. Dakon, dimainkan minimal dua orang. Dakon bermakna melatih kejujuran, ketekunan dan kegotongroyongan. Terakhir ada lesung, Yossi mengibaratkan lesung adalah suatu kebersamaan. “Satu kegiatan kalau dilakukan hanya sendiri itu egois, tapi ketika dilakukan bersama-sama akan menimbulkan irama yang sangat indah. Juga melatih memasukan nada-nada dalam perpaduan irama,” sembari Yossi menjelaskan, suara lesung dan gamelan dimainkan anak-anak. Nuansa tradisional begitu terasa.
Keberadaan YTC di Desa Keji memang telah mengubah keadaan desa yang dulunya tertinggal jadi terangkat dan produktif sebagai daerah wisata. Ada keunikan tersendiri ditempat ini. Rajak Suharta, pria 71 tahun, menjabat ketua RT 04 Desa Keji. Wajahnya mulai keriput, garis-garis urat nampak jelas ditangannya, ia seorang petani, topi hansip warna hijau bertuliskan Sat-Linmas menutupi rambut, mengenakan hem hitam dan rokok lintingan senantiasa dihisapnya. ”Dusun Suruhan, desa yang paling unik. Sejak simbah hingga cucu, generasi penerusnya tidak ada habisnya. Semua main kesenian,” terangnya.
Rajak menambahkan, Yossiadi sebatas mengembangkan potensi yang sudah ada dan dirintisnya. Ia memoles hingga jadi desa wisata seperti sekarang ini. Pertemuan pertama Rajak dengan Yossi terjadi pada pukul 12 malam. Kala itu Yossi mengahampiri rumahnya, meminta izin untuk menghidupkan kuda lumping.
Walau hanya memupuk, tapi di mata Rajak Om Yossi seorang pekerja keras. “Dia tidak ada waktu untuk istirahat, menggunakan waktu untuk kegiatan memajukan wilayahnya,” ujar kakek asli Tengaran Salatiga ini. Bagi Rajak, Yossi orang yang tidak pernah mengharap sesuatu, tapi ia akan memberi. Saat anggotanya putus asa, Yossiadi hadir menyemangati. Hal unik yang ada pada diri bapak seorang cucu tersebut menurut Rajak, Yossi instingnya kuat. “Lho saya kok mau ke sana ini ada apa? Setelah dia ke sana memang betul-betul ada kegiatan yang menghendaki kehadiran Pak Yossi,” cerita Rajak.
“Dia dijuluki pendekar, karena aktifitas yang diberikan pada masyarakat untuk membangun desanya,” kata Sapuan. Sapuan salah satu warga asli desa setempat. Bapak bermuka sayup ini mantan serdadu. Masuk militer pada 1976. Rumahnya terletak didepan kediaman Pak Rajak. “Lha pak Yossi itu ningrat, ningratan,” canda Sapuan sambil tertawa membuat gigi putihnya terlihat jelas. Maksud Sapuan, karena aktifitas Yossiadi sering menjelajah desa, maka istilah ningratan disematkan padanya. –ningratan artinya di jalan. Perumpamaan bagi mereka yang jarang menetap di satu tempat.
Dengan berbagai prestasinya itu tidak heran jika Yossiadi menerima banyak predikat, juga penghargaan. Mulai dari pendekar lereng gunung Ungaran hingga masyarakat Desa Keseneg menjulukinya Pendekar Curug Tujuh Bidadari. Pada 1991 ia memperoleh penghargaan Penyuluh Teladan I, 1993 motivator teladan I, dan pada 1995 Penggerak Swadaya Masyarakat I, seluruhnya tingkat nasional. Pernah suatu waktu seorang anggota DPR berkelakar, ”andai saja ada sepuluh pegawai pariwisata Se-Kabupaten Semarang seperti Pak Yossi, pasti turis-turis pada datang.”
***
Cinderamata berbentuk kuda buatan gadis desa itu dikalungkan satu persatu ke tamu. Ibu-ibu terlihat menjajakan pecel gablok dan getuk teteg melek. Seperti biasa, tiap hari Minggu Desa Keji selalu ramai pengunjung. Kali ini turis Belanda menyempatkan mampir ke tempat ini.
Pagelaran dimulai dengan prosesi Merti Dusun, lalu disusul Merti Air. Merti Air dilaksanakan lantaran ada sumber mata air Watu Kemloso di Desa Keji. Kedua upacara ini sebagai ungkapan syukur pada Tuhan, bumi masih diberi kesuburan.
Usai prosesi, lagu Desaku menjadi lagu sakral yang mesti dinyanyikan. Orang akan menangis tiap menyanyikan tembang itu. ”Ada rasa kerinduan dengan desanya,” kata Yossi. Usai berdendang lagu ciptaan Ismail Marzuki tersebut, kuda debog beraksi. Kuda Debog sebagai welcome dance (tari penyambutan) ditiap pagelaran. Lalu dilanjutkan tarian kuda pesisiran dibawakan anak-anak perempuan pribumi. Sementara gamelan hasil tabuhan simbah dan cucu mengiringi sepanjang pertunjukan.
”Ayo dolanan!” teriak salah satu anak. Selesai menari anak-anak berpencar, memilih mainan masing-masing sesuai porsinya. Tamu-tamu diajak bermain. Begitu terasa rona tradisional ketika mereka beratraksi. Turut sertanya penonton dalam permainan untuk memenuhi lima unsur yang dipegang Yossiadi dan mesti dimiliki tiap tempat wisata, yakni apa yang akan dilakukan wisatawan, apa yang dilihat, apa yang dirasakan, apa yang dibeli, dan kenangan mereka. Yossiadi yakin, jika kelima unsur itu terpenuhi, masyarakat akan antusias datang ke YTC. ”Pengunjungnya sudah tidak terhitung. Liputan-liputan media sering sekali,” kata Om Yossi.
Untuk itu Yossi selalu punya cita-cita melestarikan budaya secara utuh. ”Ke depan ketika aku tidak ada, sudah ada yang meneruskan,” inginnya. Ia berharap pemerintah daerah bisa tulus, betul-betul tanggung jawab, total dan tidak setengah-setengah dengan pelestarian lingkungan dan budaya.
”Kalau rakyat polah, ono istilah bopo kepradah. Kalau mau maju ya totallah. Jangan cuma ngobral janji. Untung masyarakat kita tidak terlena dengan janji, kita tanpa ada bantuan saja bisa kok,” mimik mukanya serius. ”Melestraikan keutuhan NKRI itu harus betul-betul tulus, jangan hanya ngomong saja,” bubuhnya lagi.
Yoss Traditional Centre begitu penting kehadirannya bagi kelangsungan budaya bangsa. Upaya Yossiadi juga mendapat sokongan dari mereka pecinta seni tradisi. Ada yang menyumbang rumput dan pohon untuk menyejukkan YTC, ada pula seniman yang membuatkan patung Naga Baruklinting yang lekat dengan mitos pembentukan Rawa Pening di Kabupaten Semarang. ”Arum lan kuncaraning bangsa gumantung marang budi pekerti lan kabudayana. Kalau satu bangsa kehilangan roh itu, apa artinya sebuah Negara? Kalau tidak ada budi pekerti, tidak ada budaya? Malaysia tidak punya ciri khas, makanya ingin mencaplok budaya Indonesia,” jelas tamatan STM Pembangunan Semarang 1979.
Segala jerih payah dan upaya tak membuat Yossiadi lupa pada Ibu Bapaknya. Nasehat orang tuanya M. Enohyudokusumo dan Yoana Suharti akan selalu diingat, jadi orang harus banyak saudara.
“Karena besok kamu mati tidak bisa mendem awak e dewe. Harus mendem orang lain tho?” ujar Yossiadi meresapi. “Dimana kamu berada, kamu harus bisa bergaul dengan tetangga kanan kirimu. Sehingga bisa jadi saudara. Tidak bisa pilah-pilih kamu harus pilih warna merah, kuning, warna hijau, lantara Negara kita dibingkai Bhineka Tunggal Ika. Jadi dimana kamu berada, anggap saja semua saudara. Entah itu Jawa, Madura, Dayak, entah itu agama Hindu, Islam, Katolik atau apa, anggap semua itu saudara,” imbuhnya panjang, menutup perbincangan hangat siang itu.

0 Comments
You can be the first one to leave a comment.