Oleh : Mudzakkir Judul : Indonesia Optimis Pengarang : Deny Indrayana Tebal : 255 halaman Cetakan : 2011 Penerbit : BIP (Buana Ilmu Populer) Buku berjudul Indonesia Optimis yang ditulis oleh Prof. Deny Indrayana, SH, LLM, P.hd ini bisa dibilang melawan arus,
karena ditengah kekacauan yang sedang melanda negeri ini tidak heran bila masyarakat Indonesia merasa pesimis dengan masa
depan Negara ini. Namun, Deny Indrayana hadir dengan bukunya yang berisi argumen dan data dari hasil penelitian beberapa
lembaga yang memperkuat buku ini.
Denny Indrayana menjelaskan dalam buku ini bahwa ada 3 pencapaian yang seharusnya menjadi pemicu semangat menuju
keberhasilan. 3 pencapaian tersebut ialah pencapaian dalam bidang demokrasi, bidang pemerintahan, dan bidang anti korupsi.
Tiga pencapaian itulah yang akan menjadi fokus utama dalam buku ini. Dibidang demokrasi, Ia menolak anggapan bahwa
reformasi gagal, apalagi pandangan yang merindukan sistem orde baru yang otoriter, menurutnya tidak ada yang lebik baik
dari demokrasi kecuali mendorong sistem yang lebih demokratis. Dibidang pemerintahan, pandangan bahwa pada era reformasi
sistem presidensial bermasalah juga dibantah, menurutnya dengan kewenangan yang lebih terbatas, kontrol yang lebih
tinggi, dan dukungan politik yang lebih kecil, mempunyai efek yang sangat bagus. Sedangkan dalam bidang anti korupsi,
ranah yang paling mengundang kritik, Ia pun mengatakan ada pencapaian yang tidak dapat dinafikan begitu saja. Buku ini
juga membahas tentang beberapa aspek tentang reformasi diantaranya reformasi pada bidang konstitusi dan reformasi
TNI/POLRI, keduanya adalah hal yang dituntut oleh mahasiswa diawal reformasi sehingga menjadikan negara Indonesia
sebagai negara demokrasi.
Buku ini juga membahas tentang tantangan presiden di era reformasi yang tentunya berbeda jika dibandingkan dengan
Presiden yang hidup pada era otoritarian. Ia juga menyebutkan kewenangan konstitusi, dukungan politik, factor koalisi,
dan oposisi sebagai pembeda diantara Presiden reformasi dan otoritarian. Adapun tentang indeks persaingan global dan
indeks negara gagal yang menyatakan bahwa Indonesia semakin membaik dalam hal persaingan global dan semakin menjauh
dari kategori negara gagal. Data penelitian ini sekaligus membantah asumsi beberapa kalangan bahwa Indonesia pada
saat ini menuju negara gagal.
Selanjutnya buku ini mengupas tentang korupsi, bahwa melihat kasus korupsi yang hadir silih beganti tidak harus selalu
dilihat dari sisi negatifnya saja, tetapi ada sisi positifnya bahwa upaya pemberantasan korupsi telah berhasil
mengungkap kasus-kasus yang sebelumnya tak pernah tersentuh oleh hukum. Denny Indrayana memberikan 10 usulan dan
strategi yang dianggap lebih praktis dan aplikatif untuk memberantas korupsi, yaitu berupa pembuktian terbalik,
perampasan aset hasil korupsi, pengungkapan kasus korupsi menerapkan model modern investigation, perlindungan dan
insentif yang lebih baik bagi whistle blower (pengungkap kasus) dan justice collaborator (pelaku yang bekerja sama),
penguatan KPK dan pengadilan Tipikor, penanganan korupsi dengan strategi three in one, pelarangan cash payment jumlah
tertentu harus segera diatur dalam UU, prinsip transparansi yang digariskan UU keterbukaan informasi publik yang
diterapkan dengan konsisten, segera direalisasikannya single identity number (SIN), dan semua strategi itu harus
diterapkan dalam rangka pikir hukum progresif.
Buku ini hadir ditengah-tengah berbagai masalah yang melanda Indonesia, dari kasus korupsi, suap-menyuap, mafia kasus,
mafia pajak, dan berbagai masalah lainnnya. Buku ini hadir dengan segala keoptimisannya, menghadirkan data-data dan
argumen-argumen yang cukup valid dan cukup bisa dipercaya karna data-data berupa tabel dan grafik yang sebagian besar
diambil dari pihak ketiga yang bertaraf internasional. Sebagai staf khusus Presiden, tak sedikit dari statemen dan
argumen dari Denny Indrayana dianggap sebagai pembelaan terhadap pemerintahan SBY. Tapi semua penilaian terhadap buku
ini kembali kepada kaca mata atau sudut pandang setiap pembaca, yang pasti buku ini hadir pada waktu yang tepat untuk
mendongkrak optimisme ditengah-tengah kepesimisan yang melanda Indonesia.

0 Comments
You can be the first one to leave a comment.