Pria berpawakan tinggi itu sudah menanti kedatangan Keadilan di suatu warung di Terminal Ciboleger, Serang, Banten. Ia tidak sendirian, si adik ikut menemani. Mereka Kang Saldi dan adiknya Udil, pribumi Baduy Luar. Hujan turun lebat sore itu, perjalanan ke Desa Kaduketuk, Kampung pertama Baduy Luar, terpaksa ditunda sejenak. Sembari menunggu reda, kami sempatkan menyeduh kopi di warung itu.
oleh: Adnan Fauzi Siregar
Tepat pukul 18.15 pada Jumat 25 Juni 2010 rombongan yang berjumlah enam orang angkat kaki dari Terminal Ciboleger naik ke wilayah Baduy Luar menuju Desa Kaduketuk.
Butuh sekitar 20 menit berjalan kaki untuk sampai ke Kaduketuk. Melalui jalan setapak berbatu, menanjak, sisi kanan dan kiri masih hutan, sungai kecil pun mesti diseberangi. Sehabis hujan, tanah akan basah dan licin. Mesti berhati-hati dengan kondisi itu, bila tak ingin terpeleset.
Medan sangat gelap, cuma bercahayakan lampu senter. Memang tak ada listrik di sini. Listrik menjadi salah satu pantangan bagi Suku Baduy. Rencananya Keadilan akan menginap di saung Udil selama berada di pedalaman.
***
Sohibulbait mempersilakan tamunya masuk di rumah panggung miliknya. Rumah model ini jadi identitas Suku Baduy. Akan selalu ada bunyi berdecit tiap kali kita melangkah di lantai bambu rumah itu. Dindingnya terbuat dari anyaman kulit bambu. Genteng berasal dari alang-alang kering, lima tahun sekali diganti. Beberapa batang kayu berfungsi menyangga rumah, diganjal dengan batu besar. Ada dua pintu masuk, terasnya membentuk persegi panjang. ”Tiap akan membangun rumah, tanah selalu diratakan dulu,” kata Udil. Masyarakat Baduy memiliki sekitar 5.108 hektar tanah adat.
Orang Baduy Luar atau Urang Panamping merupakan koloni terbesar. Tinggal di utara Kanekes. Populasi Urang Panamping sekitar tujuh ribuan orang, meninggali 28 kampung dan delapan anak kampung. Mereka sudah diperkenankan menggunakan paku untuk memancang kerangka rumah.
Ihwal ini berbeda dengan Suku Baduy Dalam atau Urang Tangtu yang mendiami bagian selatan Kanekes. Lantaran adat tidak mengijinkan, maka dalam memacakkan ragangan tempat tinggal, Urang Tangtu memakai serabut kayu yang diikatkan. Sederhana tapi tetap kokoh. Selain itu benda-benda modern seperti sabun, kosmetik, piring, gelas dan peralatan pabrik dilarang dipakai. Tak ada listrik, radio dan televisi. Semuanya pamali.
***
Ia sempatkan berbaur dengan Keadilan. Fisiknya terlihat renta, mimik wajahnya menunjukkan keletihan. Usianya mungkin sekitar 60 tahun. Ayah Udil jadi salah satu sesepuh yang disegani di kampungnya. Sambil membuka bungkusan berisi tembakau, lembaran kertas minyak itu dilinting dan disulut, lalu dihisap oleh Ayah Udil. Asap menyembul dari mulutnya.
Ibu Udil menyusul kemudian. Wajahnya kelihatan lebih segar ketimbang suaminya, meski rambut panjangnya sudah beruban. Pasangan ini tak bisa berbahasa Indonesia, cukup bahasa Sunda saja yang mereka kuasai. Keseharian masyarakat Baduy bertutur kata dalam bahasa Sunda Buhun atau Sunda Kuno, dengan ciri sub dialek Banten. Tapi ada juga yang sudah terasimilasi bahasa Indonesia, terutama Baduy Luar.
Kang Saldi membawa ceret berisi air putih serta gelas dan sepiring kecil gula aren. Warnanya coklat manis, disuguhkan setelah terlebih dulu diremas. Asap rokok mulai tercecer dalam ruangan. Wajah masing-masing orang tertutup siluet. Perbincangan malam itu hanya diterangi sececah api lampu tempel. Cakap-cakap berlangsung panjang.
***
Hidangan itu sudah tersaji di sudut ruangan dekat pintu menuju dapur, tatkala kami terbangun dari tidur. Nasi putih dengan lauk ikan asin, Indomie rebus dan tempe goreng serta air gunung menjadi menu sarapan pagi ini, Sabtu 26 Juni 2010.
Selesai makan, rombongan satu per satu membasuh badan di kamar mandi. Ada keantikkan di kamar mandi yang nampaknya digunakan oleh sebagian penduduk kampung. Kontruksi bangunannya menyerupai bilik, terletak di luar rumah, berdinding gedek, berlantai batu besar-besar. Tingginya tidak lebih dari satu meter, mesti jongkok tiap akan mandi. Airnya berasal dari sungai, dialirkan melalui selang, ditampung di bak yang mirip lesung. Usai mandi, kemudian bersiap.
Perkampungan Suku Baduy terletak di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes Pegunungan Keundeng. Sekitar 172 km sebelah barat Jakarta dan 65 km selatan ibu kota Serang. Ada tiga kampung di Baduy Dalam, Kampung Cibeo, Cikeurta Warta dan Cikeusik. Seluruhnya diperkirakan dihuni 800-an orang.
Sedangkan di Baduy Luar selain ada Kampung Kaduketuk terdapat pula Kampung Balingbing, Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, Babakan Marengo, dan Kampung Gajeboh.
Dengan ditemani Udil, rencana hari kedua ini Keadilan akan beravontur ke Baduy Dalam menuju Cibeo. “Masuk ke Baduy Dalam butuh waktu empat jam,” ujar Udil.
***
Tekstur jalan untuk mencapai Cibeo masih sama ketika pertama kali memasuki Baduy Luar. Beberapa perkampungan suku Baduy Luar dilalui, salah satunya Balimbing. Asal kata Balimbing dari bahasa Sunda yang berarti Belimbing. Konon dulu kala di kampung tersebut buah Belimbing melimpah ruah dan masyarakat menjualnya sebagai pencaharian.
Sepanjang pengelanaan, lanskap alam begitu indah. Sebuah jembatan bambu berukuran besar berdiri kokoh di atas sungai beraliran deras. Pepohonan berdiri dengan gagahnya. Kicauan burung terdengar nyaring. Sering Keadilan berpapasan dengan orang pedalaman Baduy Dalam yang tampak berlalu lalang. Mereka tersenyum ramah.
Baduy Dalam menyapa Baduy Luar dengan panggilan Urang Kaluaran, sedangkan Baduy Luar menyebut Baduy Dalam dengan sapaan Urang Girang atau Urang Kejeroan.
Pakaian yang dikenakan Baduy Dalam biasanya serba putih, disebut jamang sangsang. Warna putih melambangkan kehidupan Baduy Dalam masih suci. Penamaan ini lantaran cara memakainya hanya dilekatkan di badan. Desain baju sangsang cukup dilobangi pada bagian leher sampai dada saja. Tanpa kerah, kancing dan kantong baju. Dibuat menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya pun mesti berasal dari benang kapas asli yang ditenun.
Kain mirip sarung warna biru kehitaman dikenakan di bagian bawahnya, dililitkan pada pinggang. Sarung tadi diikat dengan selembar kain agar tidak melorot. Baduy Dalam tidak memakai celana, karena dianggap tabu.
Kelengkapan busana lain ialah ikat kepala berwarna putih. Ini berguna sebagai penutup rambut, berpadukan selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya
Bagi kaum wanita, busana antara Penamping dan Urang Tangtu tidak begitu berbeda. Pakaian sehari-hari yang dikenakan ialah sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Namun dadanya dibiarkan terbuka bila si wanita telah menikah. Sedangkan bagi yang masih gadis buah dadanya harus tertutup. Dalam berplesiran, wanita Baduy memakai kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman, karembong, kain ikat pinggang dan selendang.
Pekerjaan masyarakat Baduy bercocok tanam, berladang dan berburu. Tidak sedikit pula dari mereka menjual hasil kerajinan, seperti Kojam, Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang dan ikat kepala.
Keaslian Baduy merupakan andalan wisata petualangan. Prinsip hidup orang Baduy atau bisa juga disebut orang Kanekes ialah cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat. Keteguhan warga suku Baduy mematuhi hukum adatnya jadi nilai tersendiri. Etiket mengharuskan setiap warga, tidak terkecuali pengunjung untuk menjaga alam. Walaupun di Baduy Luar masih diperkenankan membawa barang-barang mengandung kimia buatan dan elektronik lainnya.
***
Seperempat penjelajahan, keadaan jalan tidak lebih baik dari yang sudah-sudah. Bertambah licin lantaran hujan sekonyong-konyong turun, apalagi tanahnya berjenis tanah lempung merah. Bukitnya semakin terjal, batunya kian cadas dan mesti hati-hati karena jurang mengancam di samping badan jalan. Tak jarang kami kerap terpelanting.
Tetapi berbeda dengan Udil, lelaki kurus asli Baduy. Wajahnya oval, rambut pendek. Hidung pipih, mukanya bersih, nyaris tak ada noda, hanya ditumbuhi jenggot. Usianya baru 20. Berpakaian serba hitam, ia tampak cekatan meniti medan. Seimbang tak hilang kendali. Matanya tidak melihat ke bawah. Bahkan terkadang ia berlari-lari kecil seraya memegang belati dipinggangnya.
Tak cukup sampai di situ medan sulit akan ditempuh. “Selanjutnya akan melewati tiga bukit dengan kemiringan sekitar 45 derajat,” kata Udil.
***
Lapak kecil itu menjajakan bermacam jajanan. Digelar di pelataran sebuah rumah, beberapa meter setelah masuk daerah Baduy Dalam. Segenap orang tampak berleha-leha di pinggiran jalan. Pengasong juga wara-wiri menyodorkan cinderamata.
Tibalah Keadilan di Kampung Cibeo, setelah menghabiskan enam jam perjalanan. Tidak jauh berbeda dengan Kaduketuk, Cibeo sudah mulai terpengaruh dunia luar.
Silih berganti orang mendatangi Baduy Dalam. Salah satu yang berhasil diwawancarai Keadilan adalah Anto, pengunjung dari Jakarta mengaku sering menyambangi Baduy Dalam. “Meningkatkan kehidupan spritualitas dan juga bernostalgia,” ungkapnnya.
Udil memperkenalkan kami pada sohibnya di Cibeo. Kang Sarif, begitu ia disapa. Usianya 21 tahun, sudah menikah. Di Baduy sering ditemui pemuda menikah dini. Rambut panjang Kang Sarif terbebat kain Romal. Kulitnya sawo matang, menyandang golok, dan bersandangan serba putih. Ia putra Puun kampung setempat. Puun ialah kepala adat dalam struktur pemerintahan Suku Baduy. Sambil terus duduk bersila sepanjang perbincangan, Kang Sarif banyak bercerita tentang kehidupan Baduy Dalam.
Terdapat sejumlah larangan jika akan berkunjung ke kampung ini. Seperti memotret, membawa atau memakai bahan kimia, membuat suara gaduh, mandi di sungai larangan dan masih ada lainnya.
”Jangan melewati batas yang terletak di utara rumah ini,” kata Kang Sarif tiba-tiba dengan suara lembut. Batas yang dimaksud adalah halaman rumah Puun. Saat Keadilan mengamatinya, tampak pelatarannya ditumbuhi rumput berwarna hijau. Sayang, tidak diketahui pasti apa sebab dilarang melewati batas rumah Puun, adapun begitu tidak sembarang orang bisa bertemu dengan Puun.
Keadilan juga dipertemukan dengan seorang Jaro. Jaro Sami namanya, berumur 50 tahun. Lelaki ini berkumis, memakai Koja (semacam sarung kecil), karakternya mirip dengan Kang Sarif. Tugas Jaro sebagai pengurus masyarakat, bisa dibilang penegak hukum. Jaro dipilih dan diberhentikan oleh Puun. “Setiap penduduk bisa jadi Jaro,” timpal Jaro Sami. Kampung Cibeo hanya mempunyai satu Jaro.
Sebenarnya ada beberapa jenis Jaro, Jaro Tangtu pelaksana hukum adat, Jaro Dangka bertugas menjaga dan mengurus barang-barang titipan leluhur dan Jaro Pamarentah berdarma pada perintah Puun. Setiap akhir tahun Suku Baduy menyelenggarakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (panggilan kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.
Penduduk Baduy Dalam mayoritas beragama Sunda Kanekes atau Sunda Wiwitan. Bermula pada pemujaan terhadap arwah nenek moyang (animisme), namun pada perkembangannya dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Baduy Dalam.
Terdapat pula pemeluk agama Islam. Ada perdebatan unik di Baduy Dalam ini, yaitu larangan memelihara dan memakan hewan berkaki empat. Bagi penduduk Baduy Dalam Muslim tentu susah untuk melaksanakan ibadah Idul Adha. Alhasil saat lebaran haji tiba, mereka hijrah ke masjid terdekat. Tentunya untuk mengkonsumsi hewan kurban di sana.
Asal mula nama Baduy sendiri masih menjadi misteri. Ada yang mengatakan sebutan Baduy diberikan oleh penduduk luar, yaitu peneliti Belanda yang menyamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang nomaden (berpindah-pindah). Selain itu juga mungkin karena adanya sungai Baduy dan Gunung Baduy yang terdapat di wilayah utara.
Ada pula cerita, Baduy berasal dari Kerajaan Pajajaran. Syahdan pada sekitar abad 11 dan 12 Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan mulai dari Banten, Bogor, Priangan sampai ke wilayah Cirebon. Raja yang berkuasa kala itu, Prabu Bramaiya Maisatandraman atau Prabu Siliwangi.
Kemudian sekitar abad 15 kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh, lantaran rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam yang dikembangkan oleh Sunan Gunung Jati, pedagang Gujarat dari Arab, mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten.
Akhirnya Raja beserta senopati dan para pembantu yang masih setia meninggalkan kerajaan masuk hutan belantara ke arah selatan dan mengikuti hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy, “Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang, malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua.” (jauh tidak menentu yang dituju, berjalan tanpa ada tujuan, berjalan di tepi tebing, berlindung di balik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu keturunan). Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di Cibeo. Menurut Jaro Sami, istilah Baduy berasal dari barisan bukit yang bernama Baduy.
***
Masyarakat Baduy Dalam percaya, dengan mematuhi hukum adat warisan nenek moyangnya, berarti telah menjaga lingkungan sekitar dan interaksi antar warga. Bila ada yang melanggar, diyakini timbul malapetaka.
Hukuman di Baduy Dalam hanyalah hukuman moral. “Didiemin deui bae lah (dikucilkan sajalah),” sahut Jaro Sami. Namun tidak selamanya sanksi moral diberlakukan. Hukuman terparah adalah Bedeng Dalem, yakni dikeluarkan dari kekerabatan Baduy Dalam. Tindakan ini diambil bila orang Baduy Dalam menikah dengan orang dari luar Baduy. Akan tetapi keringanan masih bisa diberikan apabila orang Baduy Dalam kawin dengan Baduy Luar.
Tradisi lain yang dikeramatkan Suku Baduy, yaitu Arca Domas. Tempat disemayamkannya arca ini amat dirahasiakan karena dianggap paling sakral. Selain hanya Puun, masyarakat hanya dapat mengunjungi lokasi tersebut bila telah melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalmia (Mei). Di sekitar arca tersimpan batu lumping yang dipercaya bila saat pemujaan batu itu terlihat penuh, maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil. Begitu pun sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan terjadi gagal panen.
Hampir sekitar tiga jam Keadilan singgah di Baduy Dalam. Pas pukul 12.00 kami memulai perjalanan kembali ke Kaduketuk. Tidak kalah gentingnya dengan permulaan berangkat ke Cibeo. Hari sudah gelap saat Keadilan sampai di kampung Kaduketuk.
***
Anak-anak kecil terlihat berlarian dan bermain tanah. Sebagian anak perempuan dengan pakaian jariknya bersimpuh sambil menggantungkan kaki di balkon rumah panggung. Orang-orang Kaduketuk baik dewasa maupun akil baligh lalu lalang menggotong batang kayu gede-gede. Mereka gotong royong memperbaiki dan membangun rumah.
Pada awal 2010 pernah terjadi kebakaran hebat di kampung ini. Titik api diduga berasal dari kelalaian seorang penduduk yang sedang memasak menggunakan Parako, alat masak khas Baduy terbuat dari tanah liat dan alang-alang. Lantaran bahan dasar rumah Baduy dari bambu, api cepat menyebar ke pemukiman lain. Sekalipun tidak memakan korban, tapi setidaknya 114 rumah habis terbakar. Saung itu belum seluruhnya dibenahi.
Seraya bercengkerama, Keadilan mengaso di beranda rumah Udil sambil menyaksikan aktifitas di Baduy Luar, pada Minggu siang 27 Juni 2010. Nampak sejumlah turis asing dituntun seorang pemandu bertandang ke Kampung Kaduketuk. Sepertinya mereka dari Prancis. “Biasanya cuma sampai Baduy Luar saja,” sela Udil. Masyarakat Baduy telah terbiasa mendapat kunjungan dari luar negeri. Umumnya pelancong melakukan penelitian budaya atau sekedar berwisata.
Di samping pintu depan rumah Udil sejumlah perkakas kerajinan Baduy teronggok begitu saja. Pada malam pertama kedatangan Keadilan, Ibu Udil sudah mengeluarkannya, untuk diperlihatkan pada kami. Ada beberapa barang disodorkan, mulai kain Lomar berwarna khas hitam biru, tas dan gelang dari kulit kayu. Udil memanggil Ibunya guna tawar menawar harga.
Tiga hari berlalu. Ini malam terakhir Keadilan bersilaturahmi dengan penduduk Baduy. Esok pagi mesti berkemas. Berat beranjak dari kampung ini. Suku yang menyuguhkan keindahan, kesederhanaan dan kepatuhan pada hukum adat warisan nenek moyang. Dan buah tangan karya Ibu Udil mengantar Keadilan kembali ke Yogyakarta.

0 Comments
You can be the first one to leave a comment.