Deskripsi teror menurut Kamus Bahasa Indonesia ialah usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Sedangkan terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik). Bentuk perjuangan teroris masa kini beragam jenisnya, misal dengan bom bunuh diri. Seperti yang terjadi di Indonesia dewasa ini.

Oleh: Fauzi Nasrul Maulana

 

Berbagai kecaman muncul, terutama terhadap Islam. Sejumlah bukti menunjukkan keterkaitan kaum Muslimin. Pelaku yang teridentifikasi berasal dari jaringan Jamaah Islamiyah, lalu ditemukan rekaman pribadi pelaku bom bunuh diri yang mengungkapkan dalih aksinya sebagai wujud jihad melawan Amerika.

Teroris berpengertian paradoks. Menurut Prof.Amir Mualim, pelakunya tidak mau dikatakan teroris, tetapi mereka menyebut dirinya mujahid. “Namun dalam pandangan lain mereka dianggap teroris. Karena melakukan tindak kekerasan dengan tujuan tertentu dan merugikan orang banyak,” jelasnya.

Melihat terorisme di Indonesia amatlah dilematis. Kelompok tertentu mengikrarkan dirinya suci dan agamis namun oleh sebagian kalangan dicap sebagai golongan kontra pada pandangan Negara dan agama. Negara berkorelasi dengan perbedaan, apalagi Indonesia. Bebicara mengenai agama dan pluralisme, agama dikenal mempunyai kebenaran mutlak. Sedang keberagamaan berada di tataran kebenaran relatif, bergantung pada tingkat pemahaman si penganut agama.

Djohan Effendi berpendapat, kata agama secara etomologi berasal dari bahasa Sansekerta, bisa dimaknai a well struktur and traditionally communicated wisdoms atau kebijaksanaan yang terstruktur secara rapi dan dikomunikasikan dari waktu ke waktu secara tradisional. Kata kuncinya adalah kebijaksanaan. Dimana agama berperan penuh mentransformasikan diri ke arah kebijaksanaan.

 

Terorisme Islam

Mazhab Islam dan Islam menurut pandangan pemeluknya bisa jadi terdapat pertentangan. Ideologi Islam merupakan sebuah ketetapan dari Allah SWT dan tidak membenarkan aksi teror. Artinya bermula dari ideologi, pengertian terhadap ajaran Islam bisa bermacam-macam. Sayangnya, hal ini banyak disalah tafsirkan oleh Mujahid untuk berbuat kekerasan.

Singkatnya pemahaman agama kembali pada subyeknya dan dalam kontek apa ia mengartikan itu. Di tegaskan oleh Dr. H. Rohidin., M.Ag bahwa Al-Quran tidak pernah mengajarkan tentang kekerasan terhadap jiwa maupun badan. “Bahwa sesungguhnya permasalahan terorisme ini didasarkan pada pemahaman umat yang berbeda-beda,” jelasnya. Selain itu Rohidin berpendapat permasalahan teroris ini tak luput dari kepentingan-kepentingan yang tidak terakomodir hingga menyebabkan kebencian.

Didahului dari kekerasan dengan pelaku yang membawa nama Islam, maka muncul anggapan Islam agama radikal, meletakkan kebengisan bagian dari ideologinya. Pandangan kolot bila radikalisme dijadikan suatu gerakan dengan dalih agama mengajarkannya. Hakikinya tujuan agama demi kebaikan umat, di sisi lain ada pihak berasumsi kekerasan menjadi jalan menuju kebaikan. Masing-masing agama memiliki pandangan mengenai kekerasan.

 

Radikalisme Dalam Hindu dan Kong Hu Cu

Pemuka agama Hindu, Drs. Ida Bagus Adi, mengutarakan pada dasarnya semua agama itu mengajarkan kebaikan dan kebenaran. Perilaku-perilaku yang tidak baik adalah perilaku manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu. Dari situlah peran agama menaggulangi nafsu tersebut. “Sepanjang manusia mampu mempraktekkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, maka dia bisa mengendalikan perilaku kekerasan. Dalam agama Hindu disebut Ahimsa,” ujarnya.

Hindu melihat manusia secara utuh. Manusia berkecenderungan melakukan hal-hal yang baik sesuai ajaran agama masing-masing (sudakarma) dan mempunyai potensi melakukan hal-hal yang tidak baik (asudakarma). Dari pemikiran tersebut manusia bisa berperilaku dan berpikir seperti sifat-sifat ketuhanan akan tetapi dapat juga bersikap seperti buto (makhluk jahat).

Selaras dengan Hindu, dalam agama Kong Hu Chu, dunia tidak terlepas dari dua unsur, yaitu Yin negatif atau buruk dan Yang positif atau baik. Menurut Ws. Adjie Chandra, dalam lambang Yin dan Yang pada bulatan ada titik hitam di bagian putih dan titik putih di sisi hitam. Dipisahkan dengan garis melengkung, menandakan dua unsur tampak berbeda tapi bukan buat dipertentangkan namun diharmoniskan.

Go Djien Tjwan (nama Cina Adjie Chandra) menambahkan, Tuhan tidak hanya memberikan nurani tapi juga naluri, sama seperti Yin dan Yang. Nurani adalah sifat-sifat kebaikan, sedangkan naluri sifat-sifat buruk. Ia mencontohkan rasa lapar dan ketertarikkan melihat lawan jenis wujud watak jelek. ”Supaya kehidupan ini harmonis bukan berarti naluri kita bunuh. Dalam ajaran Kong Hu Chu naluri harus dikendalikan, nurani mesti dikembangkan. Kalau manusia memahami itu saya yakin kekerasan bisa dihindari,” himbaunya.

Kong Hu Chu tidak mengenal kehidupan setelah mati. Tidak ada surga ataupun neraka, cukup dunia ini surga dan neraka itu. Sehingga setiap pekerjaan sepatutnya dilakukan dengan penuh kebaikan, mengendalikan sikap anarkis dan menciptakan kebahagiaan.

 

Kekerasan Dalam Kristen dan Budha

Menurut Pendeta Imanuel Harno Sakino, M.Th, dalam tesisnya yang membahas peran simbol agama terhadap kekerasan agama, ia mengutarakan keprihatinannya agama sering menjadi pemicu kekerasan. Padahal agama semestinya penabur kedamaian.

Keberadaan simbol-simbol keagamaan yang memiliki arti penting bagi penganutnya justru dapat menyebabkan polarisasi keterpisahan antar manusia dengan manusia lain. Salib misalnya, sebenarnya mempunyai arti relasi vertikal kepada Illahi dan horizontal kepada sesama. Simbol keagamaan tak hanya berwujud benda saja. Penggunaan bahasa, pakaian dan perilaku bisa mencerminkan simbol-simbol keagamaan.

Simbolisasi berpotensi awal memecah belah manusia, lalu dapat berkembang jadi ketidaksukaan dan saling curiga. Kemudian potensi kekerasan timbul. “Saya kira masyarakat Indonesia perlu menipiskan simbol-simbol keagamaan. Simbol itu memang perlu ada karena iman bisa terbangun oleh simbol, tetapi bila orang menganut agama berhenti pada simbolistik, maka orang tidak bertemu Allah. Ketika tidak bertemu Allah maka sulit bertemu manusia,” katanya.

Banthe Nyana Gupta berpandangan, kontruksi dalam mempelajari agama diperlukan. “Disitulah pentingnya kita menafsirkan sesuatu, dengan dasar cinta kasih bahwa semua orang membutuhkan kedamainan. Persoalan rumit akan terselesaikan dengan mudah, bahkan persoalan kontroversi kitab dengan permasalahan duniawi bisa terpecahkan bila melihat sisi tersebut,” jelasnya.

Pada Bab X:1 kitab suci Dharma menyatakan, “semua makhluk hidup gemetar menghadapi hukuman, semua makhluk hidup ngeri menghadapi kematian, setelah membandingkan bahwa orang lain juga seperti dirinya, hendaknya seseorang tidak membunuh makhluk lain atau menyebabkan terjadinya pembunuhan.” Ayat tersebut memberi arti di diri manusia terdapat kesamaan.

Merujuk ungkapan Pay, “I am Budhies but not budhiesem,” Banthe Wimala Dharma, menuturkan, pemeluk agama selayaknya menjadikan agama sebagai alat menuju kebahagiaan dan melepaskan simbol-simbol keagamaan hanya untuk dibela mati-matian melebihi nilai-nilai yang terkandung dalam agama itu sendiri.